Alun-Alun, Tempat Kita Berkerumun


Jika mengacu pada masa lalu, alun-alun adalah taman kota yang letaknya berada di depan istana keraton. Konon alun-alun dibuat sebagai pembatas antara rakyat dan penguasa. Rakyat tidak boleh masuk ke istana, karena istana harus dijaga kesakralannya.

Bila rakyat ingin bertemu sang raja — atau sebaliknya — jika raja ingin bertemu rakyatnya, rakyat harus berkumpul di alun-alun. Dan, sang raja cukup berdiri di balkon istana. Alun-alun juga digunakan kerajaan untuk menggelar berbagai upacara, atau untuk mementaskan bermacam pertunjukkan guna menghibur rakyat.

Bila tidak sedang digunakan untuk upacara atau acara-acara resmi kerajaan, rakyat bebas berkiprah di alun-alun. Para bocah bermain kejar-kejaran atau bermain layangan, dan para orangtua bercengkerama sambil menikmati semilir angin senja. Ngobrol tentang masa lalu, mengungkapkan cita-citanya yang tidak kesampaian, dan berharap cita-cita itu diteruskan oleh anak-cucunya.

Istilah alun-alun untuk menyebut taman kota atau taman kerajaan ini, konon berasal dari zaman Kerajaan Mataram. Alun-alun pada saat itu, umumnya dihampari pasir, yang jika tertiup angin akan membentuk gelombang seperti ombak laut yang mengalun. Ketika angin sedang beristirahat, gelombangnya tetap berbekas, dan tetap terlihat seperti alunan ombak. Lalu rakyat pun menyebutnya alun-alun, karena pasirnya tampak mengalun.

Setelah zaman kerajaan sirna dari bumi Indonesia, tradisi alun-alun tetap dipertahankan. Di depan istana Presiden Republik Indonesia, ada alun-alun Monas. Pun, di banyak daerah di Indonesia, masih sering kita temukan adanya alun-alun di depan kantor kabupaten.

alun-alun-bandung-wwwasiatravellingnet

Alun-alun kota Bandung (www.asiatravelling.net)

alun-alun-garut

Alun-alun kabupaten Garut tempo dulu (http://blogs.unpad.ac.id)

alun-alun-semarang

Alun-alun Semarang tahun 1920-an (www.loenpia.net).

Contoh alun-alun yang merupakan peninggalan masa lalu, adalah alun-alun di depan keraton Ngayogjokarto Hadiningrat. Di alun-alun ini ada pohon beringin kembar, tempat rakyat Jogja berseliweran mencari hiburan.

alun-alun-jogja-wwwtembiorg

Alun-alun selatan kraton Jogja (www.tembi.org).

Jadi, meskipun pembuatan alun-alun pada mulanya dimaksudkan sebagai simbol kebesaran kerajaan, kehadiran alun-alun tak dapat dipungkiri sangat bermanfaat bagi masyarakat. Tempat bersosialisasi, tempat menghibur diri, juga tempat berdemonstrasi. Singkatnya, tempat masyarakat melupakan dan melampiaskan segala keruwetan.

alun-alun sumedang4alun-alun sumedang2

Atas dan bawah: Alun-alun Kabupaten Sumedang dengan lingga prasastinya.

Dengan kata lain, alun-alun tetap diperlukan sampai kapan pun, selama kehidupan bermasyarakat ini masih mengalun. Meskipun sekarang ini, istilah alun-alun mungkin sudah berubah menjadi city park, alias taman kota. Lalu, apa tujuan tulisan ini? Tidak ada. Saya hanya ingin bicara tentang alun-alun. Sekedar untuk menghibur diri. Kalau Anda juga ikut terhibur, ya syukurlah.

Billy Soemawisastra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s