SD Harintha, Pencetus Meditasi Hening

23

Minggu, 27 Juli 2008 oleh Billy Soemawisastra


Guru meditasi itu telah berpindah ke lain dimensi. Pada dimensi sebelumnya, dimensi fana, Sang Guru hidup dalam kondisi yang serba kekurangan. Berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, yang biaya sewanya lebih murah. Tetapi tak pernah sedikit pun Sang Guru mengeluhkan nasibnya. Bahkan sebaliknya, ia selalu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta, dan menerima segalanya dengan penuh keikhlasan. “Maturnuwun, Gusti. Sumonggo Kerso,” begitu ucapnya selalu.

Berpindah ke lain dimensi, seperti itulah Sang Guru memaknai kematian. Perpindahan Sang Ruh dari alam fana yang diliputi berbagai keinginan, menuju alam baqa yang suwung, bebas dari segala keinginan. Di alam suwung itu yang ada hanya keheningan. Tanpa bentuk. Tanpa rupa. Tanpa warna. “Itulah frekuensi Illahi, yang sebenarnya bisa kita capai selagi kita berada di alam fana, melalui latihan meditasi tanpa henti,” ujarnya.

SD Harintha (1932-2007)

Sang Guru itu bernama Suratno Dharmo Harintha (ia lebih suka menyingkat namanya sebagai SD Harintha). Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 13 Januari 1932. Dialah yang pertama kali mencetuskan Meditasi Hening, praktek meditasi dengan metode dekonsentrasi. Meditasi tersebut, konon merupakan warisan leluluhurnya: Pangeran Sambernyawa, pendiri Dinasti Mangkunegaran.

Pertama kali saya mengenalnya sekitar tahun 1989. Waktu itu saya masih bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Majalah SARTIKA, majalah kesehatan jantung yang diterbitkan oleh Grup Bustanil Arifin (mantan Kabulog di zaman Soeharto). Salah seorang wartawan saya, Iskandar Sultoni, menyodorkan tulisannya tentang Meditasi Hening, yang menurutnya, bisa dijadikan sebagai alternatif cara mengendalikan stres.

Sebagai pengelola majalah kesehatan jantung, tentu saja saya menilai tulisan semacam itu memang layak dimuat. Terutama karena stres, merupakan salah satu faktor resiko utama serangan jantung koroner. Tetapi secara pribadi, saat itu saya tidak tertarik dengan Meditasi Hening. Meski saya pun sependapat dengan Iskandar Sultoni bahwa tulisannya akan sangat bermanfaat bagi para pembaca, yang sebagian besar adalah anggota Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia.

Sekitar setahun kemudian, ketika saya tengah membolak-balik nomor-nomor majalah yang pernah kami terbitkan, saya tertumbuk pada tulisan Iskandar Sultoni tentang Meditasi Hening. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin berkenalan dengan SD Harintha, pencetus Meditasi Hening, yang amat dikagumi teman saya itu. Saya pun mengajak Iskandar untuk berkunjung ke rumah orang tua tersebut.

Dengan sangat antusias, Iskandar mengantarkan saya ke tempat kediaman sekaligus tempat praktek Pak Harintha, di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Di sana saya menemukan orang tua yang sangat sederhana. Penuh kebapakan. Tutur katanya lemah lembut, dan sorot matanya memancarkan semangat hidup yang amat tinggi.

Sejak itu terjadilah dialog intens antara saya dengan beliau, tentang konsep Meditasi Hening. Konsep meditasi yang digalinya dari budaya Jawa, yang selalu menekankan inward looking, dan upaya mengendalikan keinginan.

Banyak kesamaan antara konsep Meditasi Hening yang diajarkan Pak Harintha, dengan konsep tasawufnya Al-Ghazali. Kebetulan, sedikit banyak saya pernah mengaji kitab-kitab Al-Ghazali, tatkala masih menjadi santri di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Sehingga, tentu saja, obrolan saya dengan Pak Harintha terasa semakin menarik.

Saya pun menjadi salah seorang murid Pak Harintha, hingga bertahun-tahun kemudian. Dan, ia tak pernah berubah. Meskipun kesulitan hidup menimpanya bertubi-tubi, ia tetap terlihat cerah, penuh semangat, tetapi juga penuh kepasrahan.

Dari Tanah Kusir ia pindah ke daerah Rawa Buaya, Cengkareng, lalu pindah lagi ke kawasan Pamulang, Tangerang, sampai akhir hayatnya. Semua itu ia lakukan karena Sang Guru Meditasi ini tidak memiliki rumah. Ia harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk memperoleh rumah kontrakan yang lebih murah. Dan, tampaknya tidak pernah terpikir oleh Pak Harintha, untuk meminta bantuan para muridnya (yang sebagian besar orang kaya).

April 2007, Sang Guru jatuh sakit, dan sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan, sampai akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan tiga orang putra dan dua orang putri, yang kesemuanya sudah berkeluarga. Hanya keluarga inti dan salah seorang muridnya paling setia, Ibu Rossalia, yang mengantar jenazah beliau menuju peristirahatan terakhirnya di Wonogiri.

Lalu ke mana murid-muridnya yang lain? Banyak yang tidak tahu bahwa Sang Guru telah berpulang. Mungkin karena masih disibukkan untuk mengejar berbagai keinginan. Seperti saya, yang tidak pernah ada puasnya mengejar keinginan, sehingga sering lupa pada Pak Harintha yang telah mengajarri saya Meditasi Hening. Mengajari saya untuk mengendalikan keinginan. Saya pun, tidak menghadiri upacara pemakamannya.

Mungkin saya termasuk murid yang tidak peduli pada nasib Sang guru, terutama pada hari-hari terakhirnya. Tetapi sesungguhnya, rasa terima kasih saya kepada beliau, begitu besar dan tak ada habisnya hingga kini. Begitu banyak pencerahan yang beliau berikan kepada saya, Beliaulah yang mengajari saya secara konkret, cara-cara pengendalian diri. Beliaulah yang selalu mengingatkan saya akan keagungan Sang Pencipta, dan betapa kecilnya manusia di hadapanNya.

Saya tidak akan mengucapkan selamat jalan kepada beliau, karena beliau tidak pergi ke mana pun. Beliau, masih ada di sini. Hanya saja di lain dimensi.

Billy Soemawisastra.

[Foto SD Harintha: Iskandar Sultoni]

23 thoughts on “SD Harintha, Pencetus Meditasi Hening

  1. soegeng soediro mengatakan:

    Tidak sengaja tangan saya menge-klik meditasi hening. Tentu saja saya berterima kasih “berkenalan” dengan SD Harintha. Alangkah baiknya ajaran beliau ditulis di sini, bukan saja memperkenalkan tetapi juga menambah khasanah tentang meditasi dari warisan leluhur. Semoga Berkenan.

  2. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Terima kasih atas komentarnya, Mas Sugeng.Juga komentarnya pada tulisan: “Terima Kasihku pada Sang Buddha”. Meditasi Hening-nya Pak Harintha sekarang ini nyaris menghilang dari “tataran pelatihan”, setelah pencetusnya meninggal dunia. Sementara para muridnya (termasuk saya) belum tuntas mendalami meditasi tersebut, sehingga belum memiliki keberanian untuk melanjutkan pelatihan kepada orang lain. Tetapi meditasi (seperti juga ibadah sholat) bisa dilakukan secara personal. Jadi tulisan ini diharapkan bisa menjadi panduan bagi siapa pun yang berminat mendalami dan melakukan praktek meditasi, khususnya meditasi hening.

  3. soegeng soediro mengatakan:

    Terima kasih,saya terkesan dengan ” kesederhanaan” Bpk Harintha.Pelajaran yang saya peroleh dari kesederhanaan itu adalah; memiliki materi memang menjadi nyaman, meskipun belum tentu bahagia. Bapak Harintha telah memilihnya.Andai Bpk Wily berkenan kiranya “cuplikan” atau yang pernah didengar dari ajaran beliau, sudilah dikirm ke email saya tsb. terima kasih. Salam kasih

  4. diajeng mengatakan:

    Seorang sahabat merekomendasikan blog ini sebagai referensi yang baik untuk meditasi hening dan peningkatan kesadaran jiwa. Ini pertama kalinya saya visit dan banyak hal yg manfaat bisa saya peroleh dari blog ini. Semoga Bapak berkenan bila saya link blog ini blog saya :)

  5. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Silakan, Diajeng, kalau mau me-link blog saya di blog Anda. Saya bahkan berterima kasih bila Diajeng ikut mempromosikan Jagat Alit melalui blog panjenengan. Sering-seringlah berkunjung ke Jagat Alit. Saya pun akan berkunjung ke blog Diajeng.

    Untuk Mas Sugeng, insyaallah kalau saya sudah punya waktu senggang, saya akan kirim beberapa cuplikan ajaran Pak Harintha (berdasarkan ingatan saya)via email.

  6. diajeng mengatakan:

    Terimakasih Pak berkenan visit & link blog saya. Saya akan sering-2 visit ke sini, dan slalu menunggu posting2 Bapak yg mencerahkan terkait jagat alit.

  7. yuwana mengatakan:

    mohon kiranya berkenan mengirim cuplikan ajaran Bpk SD harintha via email kpd saya.

    Salam
    Semoga selalu beruntung dan bahagia

  8. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Permintaan Pak Yuwana sudah saya penuhi. Saya sudah berkirim email ke alamat Bapak. Juga ke alamat emailnya Pak Soegeng Soediro, yang pernah meminta hal serupa beberapa waktu lalu.

  9. KangBoed mengatakan:

    Dirimu hadir….. saat aku DIAM…
    DIAM dalam keDIAMan…
    Menatap mesra… lembut dan manja…
    Menggetarkan sang diri yang terlena…

    Lupaaa…… Hilaaaang sudaaah semua perkara….
    Saat sapaaaan dan belaianMU datang
    Tertumpah Rindu hati dalam isak tangis penyerahaaan…
    hmm…. Sungguh indaaah…. tak terkira rasanya…

    Apalah daya ini….
    Lepas sudah… telanjang….
    Semua tertinggaaaal….
    Hidup dalaaam HIDUP….

    Salam Sayang…

  10. KangBoed mengatakan:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    Salam Sejati

  11. Wanda mengatakan:

    Buka main…. Hanya sekelumit saya membaca tulisan diatas, saya merasakan getarannya.
    Getaran hati akan “meditasi hening” yang saya rasakan bagai ribuan kata-kata pencerahan.
    Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti.

  12. Choirul Zulrachmansah mengatakan:

    Assalamualaikum pak Billy, salam kenal dari saya, mohon kiranya berkenan mengirim cuplikan ajaran Bpk SD harintha via email kpd saya, matur nuwun sanget.

    Wassalamualikum Wr. Wb.

  13. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Wa’alakum salam Wr Wb.
    Terima kasih Anda telah berkunjung ke Jagat Alit. Saya sudah kirimkan cuplikan ajaran Bapak SD Harintha ke alamat email Anda.

  14. dedy ardianto mengatakan:

    salam kenal dari saya Pak Billy, mohon kiranya berkenan mengirim cuplikan ajaran Bpk SD harintha via email kpd saya, terima kasih

  15. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Insyaallah permintaan Anda akan saya kirimkan melalui email.

  16. Idin Saepudin Ruhimat mengatakan:

    Salam kenal pak billy…mohon berkenan juga untuk mengirimkan cuplikan pengajaran pak Harintra ke email saya…..

  17. Sugeng mengatakan:

    salam kenal pak billy, jika berkenan bolehlah kirimkan jg saya sedikit petunjuk2 dari bapak SD Harintha…..trimakasih

    Salam hormat,
    Sugeng

  18. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Permintaan Anda saya kirimkan melalui surel (email).

  19. Dwi mengatakan:

    Membaca tulisan pak Billy, saya baru mengetahui bahwa beliau (Eyang Harinto panggilan kami sekeluarga kepada beliau) sudah meninggal dunia. Lost contact sejak akhir tahun 2003.

  20. Sugiharto mengatakan:

    Assalamualaikum pak Billy, salam kenal dari saya, Sugiharto.
    Mohon kiranya berkenan mengirim cuplikan ajaran Bpk SD harintha via email kepada saya, Terimakasih
    Wassalamualikum Wr. Wb.

  21. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Permintaan bapak sudah saya kirimkan by email.

  22. agus mengatakan:

    trima kasih pal billy saya sangat beruntung bisa membaca tulisan bapak “meditasi hening” kalau boleh saya mohon dikirimi cuplikan wejangan bapak sd harintha untuk lebih memahami meditasi hening trimakasih

  23. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Akan saya kirimkan melalui email bapak, sesegera mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: