Isra Mi’raj

1

Kamis, 31 Juli 2008 oleh Billy Soemawisastra


Setidaknya selama sebulan ini (penghujung bulan Juli hingga paruh ketiga Agustus) umat Islam di seluruh dunia merayakan peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan spiritual Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang kemudian dilanjutkan menuju Sidratil Muntaha. Perjalanan jauh yang berlangsung hanya semalam itu, menurut perhitungan tahun Hijriyah, terjadi pada tanggal 27 Rajab, yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 30 Juli.

Hingga kini para pemikir Islam masih belum sepakat tentang bentuk perjalanan Nabi Muhammad, yang penuh misteri itu. Ada yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj dilakukan Rasulullah secara utuh, dalam arti tubuh dan ruhnya yang melakukan perjalanan tersebut. Ada juga yang berpendapat hanya ruhnya yang berangkat, sementara tubuhnya tetap berada di Mekah.

Pun, tak sedikit yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj itu berlangsung dalam suasana meditatif atau suasana zikrullah. Berdasarkan konsep ini, ruh dan tubuh Rasulullah tidak pergi ke mana pun. Ia tetap berada di Mekah, di rumahnya. Tetapi batinnya yang sedang berada dalam keheningan, dalam suasa mengingat Allah secara total, memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Sang Pencipta mengenai kekuasaanNya yang tiada tara. Dalam kondisi itu, Rasulullah berkomunikasi langsung dengan Allah.

Semua pendapat tersebut mempunyai dasar-dasar yang kuat, sehingga bentuk perjalanan Isra dan Mi’raj tidak akan pernah selesai diperdebatkan. Menurut Guru Besar Ilmu Tafsir Al-Quran, Prof. DR. Quraisy Shihab, hanya keimananlah yang bisa menerima dan meyakini adanya Isra Mi’raj. Terutama karena peristiwa tersebut secara eksplisit termaktub dalam beberapa ayat suci Al-Quran, di antaranya ayat 7 surat Al-Isra.

Sudah selayaknya umat Islam meyakini adanya peristiwa Isra Mi’raj, karena untuk memahami ajaran agama, tidak sepenuhnya bisa ditelusuri secara aqliyah (akal semata) tetapi juga harus dibarengi dengan naqliyah (berpegang pada dalil-dalil dalam Kitab Suci). Agama, merupakan paduan antara immanent dan transcendent.

Lalu apa relevansi Isra Mi’raj dengan keseharian manusia? Melalui peristiwa tersebut, Sang Pencipta agaknya ingin mengatakan secara tegas bahwa di atas segala-galanya, ada Dia. Dia yang memperhatikan tingkah-polah manusia, hingga yang sekecil-kecilnya. Dia yang akan mengadili manusia pada saatnya kelak. Walhasil, orang yang mengaku beriman dan beragama, seyogianya selalu sadar bahwa segala perbuatannya senantiasa tidak lepas dari pemantauan Sang Maha Kuasa. Adakah kesadaran ini sudah menyatu dalam diri manusia, khususnya umat beragama?

Tampaknya tidak. Masih banyak orang yang tidak pernah malu berbuat kemungkaran dan merugikan orang lain, padahal mereka mengaku beriman. Salah satu perbuatan mungkar dan merugikan orang lain itu adalah korupsi. Dan, para pelaku korupsi itu adalah mereka yang mengaku beriman dan beragama, dan pernah berkampanye pada pemilu dengan mengatasnamakan agama, guna meraih konstituen sebanyak-banyaknya.

Akhirnya agama hanya menjadi komoditas politik. Seperti “ayam potong” yang ramai-ramai disembelih setiap pemilu. Setelah berhasil, beramai-ramai pulalah berbagi-bagi uang rakyat, tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah. Paling-paling, begitu ketahuan, uang itu dikembalikan. Padahal pengembalian uang seperti itu tidak menghapus niat dan perbuatan sebelumnya. Pun yang dikembalikan hanya yang ketahuan. Yang tidak ketahuan?

Sebentar lagi kita akan menghadapi pemilu. Sebentar lagi kita akan menyaksikan para calon wakil rakyat berkampanye. Sebagian di antara mereka akan berkampanye dengan mengedepankan agama, dan akan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan hadis nabi dalam orasinya. Mudah-mudahan rakyat tidak tertipu lagi oleh para “penjual agama” ini.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: www.liputan6.com]

One thought on “Isra Mi’raj

  1. soegeng soediro mengatakan:

    Menurut “pemahaman” saya Pak Billy, Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual manusia bernama Muhammad yang sudah menjadi “Budha” menjadi “Kristus” dan “Manunggal”.yang telah ” diperkenankan” oleh Yang Maha Suci miyak wadining jagad. Sedangkan kita-kita ini menggunakan 5 % persen kemampuan otaknya juga tidak Lha kok mau menjelajahi “kedatonNya” ya dereng kepareng. Rak nggih to pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: