Ramadhan

4

Senin, 1 September 2008 oleh Billy Soemawisastra


Ramadhan itu datang lagi. Bulan kesembilan dalam hitungan tahun Qomariyah (Hijriyah), yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu sebagian besar umat Islam, terutama para sufi dan orang-orang shaleh yang ikhlas beragama. Orang-orang inilah yang sangat bersukacita menyambut Ramadhan, dan menangis di kala bulan suci itu berakhir, karena khawatir tak jumpa lagi dengan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, merupakan momentum teramat penting bagi setiap Muslim, untuk “sejenak” menghindarkan diri dari berbagai keinginan duniawi, dan beramal shaleh sebanyak-banyaknya baik secara vertikal (mendekatkan diri kepada Allah) maupun secara horisontal (berbuat baik kepada sesama manusia). Tetapi mengapa harus menunggu Ramadhan untuk melakukan itu semua?

Tentu saja, upaya untuk meningkatkan ketaqwaan atau memperbanyak amal shaleh, bisa dilakukan setiap hari, bahkan setiap detik, tanpa harus menunggu Ramadhan. Tetapi manusia tampaknya membutuhkan terapi, atau semacam dorongan semangat khusus — yang dalam hal puasa Ramadhan — diberikan langsung oleh Tuhan. “Hai orang-orang beriman, telah tiba untukmu masa berpuasa, seperti yang pernah dialami orang-orang sebelummu, agar kalian bertaqwa,” demikian Firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 183.

Ayat suci tersebut menyiratkan bahwa tradisi berpuasa (yang diperintahkan Tuhan), bukan semata-mata milik orang Muslim. Manusia-manusia sebelumnya (seperti Yahudi dan Nasrani) juga memiliki tradisi berpuasa, sesuai tuntunan Kitab Suci mereka masing-masing. Itu artinya bahwa praktek berpuasa memang dibutuhkan manusia, untuk memelihara keseimbangan hidupnya. Puasa menjadi semacam oase tempat mengistirahatkan tubuh, hati dan pikiran manusia dari berbagai keinginan duniawi, setidaknya selama sebulan dalam setahun.

Dalam sebulan itu, tentunya bukan hanya rasa lapar dan haus yang harus dilatih. Bukan hanya nafsu syahwat yang harus dihindari. Tetapi juga rasa iri, dengki, benci, tamak, merasa diri paling benar, itu yang harus dikikis dari dalam diri. Sehingga yang tertinggal hanyalah rasa ikhlas, keinginan untuk saling berbagi dan saling menghargai, termasuk kebiasaan menghormati pendapat dan keyakinan orang lain.

Ramadhan adalah momentum yang paling baik untuk mengembangkan rasa cinta kepada sesama manusia, tanpa melihat asal-muasalnya, seraya mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh cintaNya. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Maafkan segala kesalahan.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini bisa dilihat pula di www.liputan6.com]

4 thoughts on “Ramadhan

  1. Bagoes Ilalang mengatakan:

    Saya cuma khawatir, kalimat “terutama para sufi dan orang-orang shaleh yang ikhlas beragama” membuat iri kaum muslim lain yang belum mukmin. Mereka pasti merasakan nikmatnya Ramadhan dengan kapasitasnya masing-masing, meski tanpa tangis dan full ibadah seperti kaum sufi. Tapi, mereka pastinya kecewa bila dianggap tidak seperti kaum sufi (walaupun prakteknya tidak). Maksudna teh, kumaha ngaelus anu hanteu supaya kawas nu ngalakonan. Hatur nuhun.

  2. venti mengatakan:

    kak, apa kabar? ini venti mudah-mudahan inget yah!!! venti sudah banyak baca tulisan-tulisan kakak,dan kak arthur di bung daktur atau jagat alit semuanya bagus. oh ya salam buat kakak yang lain yah dari venti, sita, papa dan mama. terima kasih kak.

  3. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Venti, terima kasih ya, sudah berkunjung ke Jagat Alit dan “Bung Daktur ARH”. Hei, kamu mestinya bukan panggil saya Kak. Tapi Om, karena saya ini adiknya Papa Ventje Sipahelut alias Kak Boy yang ngetop di ARH itu. Kamu juga bisa panggil saya Opa, karena menurut silsilah keluarga, mamamu itu masih keponakan saya. Nah, bingung kan? Jadi, kamu boleh panggil saya dengan sebutan Om atau Opa. Jangan panggil Kakak, nanti Opa alias Om ini bisa lupa bahwa umurnya sudah tua (padahal sih memang sering lupa). By the way, sukses untuk Venti dan keluarga (sudah punya anak berapa?). Salam buat Papa Ventje, Mama dan Sita. Khusus buat Papa Ventje, bilang bahwa Om Billy atau Opa Billy kangen sama dia. Kapan-kapan pengen ngobrol.

  4. venti mengatakan:

    maaf kak billy, venti sudah terbiasa dari dulu venti manggil ke kak billy, bukannya om tapi kaka, atau kak yang lupa. lalu yang sudah menikah adalah sita, adik venti, venti belum menikah. sita sudah punya anak dua. dua-duanya laki-laki. jadi papa punya anak perempuan dua dan punya cucu dua laki semuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: