Memaafkan dan Mengampuni

1

Selasa, 30 September 2008 oleh Vincent Hakim Roosadhy


Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?

Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin.

Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan, akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Baik raga, mental, maupun pikiran. Sedikit demi sedikit, kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu tergerogoti.

“Jika kamu mampu meminta maaf, memberikan maaf, dan pengampunan secara tulus, maka hidup dan beban jiwamu akan ringan seringan kapas” katanya kala itu.

Mengapa orang harus meminta dan memberikan maaf?

Atau mengapa orang harus meminta ampun dan memberikan pengampunan?

Memaafkan dan mengampuni, memiliki substansi makna yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama merupakan wujud ekspresi rohani manusia beradab ber-Ketuhanan.

Meminta dan memberi maaf, mohon ampun dan memberikan pengampunan, adalah refleksi ungkapan kerendahan hati manusia beriman yang siap mengakui kelemahan diri di hadapan manusia dan SANG PENCIPTA. Di dalamnya terkandung keinginan tobat memperbaiki diri. Manusia pun menjadi putih bersih laksana terlahir kembali seperti sediakala sebagai CITRA YANG MAHAKUASA.

Kesadaran rohani inilah yang membedakan tingkat keimanan seseorang. Kesadaran spiritual ini seharusnya terus dipupuk dan dibangun setiap detik, setiap saat, setiap waktu, terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari diri.

Meminta maaf dan memberikan permaafan – juga meminta ampun dan memberikan pengampunan tanpa syarat, membutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan kesiapan mental luar biasa. Untuk meminta maaf, orang harus merelakan dirinya dalam posisi lebih rendah dari orang lain. Demikian pula ketika orang memberikan pengampunan. Ia dalam posisi amat berkuasa.

Godaan amat besar ada pada posisi orang yang mempunyai kekuasaan besar dan posisi lebih tinggi. Tak semua orang mampu melaksanakannya! Kemampuan meminta dan memberikan maaf, dan juga pengampunan, merupakan simbol perwujudan keimanan kepada SANG HYANG PEMBERI HIDUP yang terdalam.

Permaafan dan pengampunan sejati tidak membutuhkan syarat. Jadi tidak berlaku istilah: “Minta maaf saja tidak cukup!” atau “Ok. Kali ini saya maafkan tapi besok lagi tidak!” dan banyak lagi ungkapan pemberian maaf disertai dengan syarat-syarat dan kata-kata negasi. “Saya maafkan tetapi….”

Meminta maaf, memberikan maaf dan pengampunan adalah final tanpa syarat. Permaafan dan pengampunan mestinya selebar dan seluas samudera tanpa batas.

Dendam Seolah Menjadi Tren Hidup.

Di lingkungan masyarakat kita, dendam seperti membudaya. Konflik sosial begitu mudahnya berkobar. Tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga desa, antarkelompok yang mengatas namakan agama. Ada juga pelayan dendam kepada majikan. Atau juragan enggan meminta maaf kepada pembantu. Istri memendam dendam kepada suami. Sampai-sampai ada istilah: cacian dibalas dengan makian, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah, atau nyawa ganti nyawa. Suatu kebiasaan hidup gaya barbar, cerminan manusia tak berbudaya, tak beradab, dan tak ber-Tuhan.

Ajaran antikekerasan dan prinsip ajaran welas asih berumur ribuan tahun lampau yang menyatakan bahwa jika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah juga pipi kananmu jadi terasa amat ekstrim mengada-ada. Mana mungkin itu dilakukan. Hari gini, gitu loh?

Tapi itulah welas asih yang penuh dengan bangunan keharmonisan hidup. Tindakan kekerasan yang dulu sering digambarkan sebagai jalan pedang hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan baru.

Tradisi saling maaf-memaafkan dan saling mengampuni diajarkan oleh semua agama dan ajaran-ajaran kebijaksanaan tentang hidup modern yang berkeadaban. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, memberikan maaf, mohon ampun, dan memberikan pengampunan.

Sudahkah Anda meminta maaf, memberikan maaf, dan memberikan pengampunan pada musuh Anda sekarang?

Mohon maaf jika ada kesalahan.

Vincent Hakim Roosadhy

One thought on “Memaafkan dan Mengampuni

  1. Adinata mengatakan:

    Cool,,
    Mengakui kesalahan dan mau meminta ma’af adalah beban yang berat. Jauh lebih berat lagi adalah mau mema’afkan tanpa syarat.
    Tulisan yang bagus… Thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: