”Kuping Indonesia” di Musica Studio’s


Para penikmat musik Indonesia sudah pasti tidak asing lagi dengan nama-nama tenar seperti Peterpan, Nidji ataupun Letto. Kalangan yang lebih senior juga pasti belum melepas ingatan mereka atas penyanyi legendaris almarhum Chrisye. Ada satu kesamaan yang dimiliki semua musisi yang tergolong dalam papan atas peta musik Indonesia itu, mereka adalah para artis yang bernaung di bawah bendera Musica Studio’s.

Deretan artis yang besar di bawah Musica Studio’s tidak berhenti sampai nama Nidji, Letto atau bahkan D’Masiv, yang baru belakangan ini menggapai puncak popularitas. Jauh sebelum mereka, sebelum era grup merajai panggung hiburan musik di tanah air, para penyanyi solo yang jaya di masanya juga ikut berbagi label, Musica Studio’s. Selain Chrisye, masih ada nama-nama besar seperti Rafika Duri, Vinna Panduwinata hingga Iwan Fals.

Tentu ada beberapa sebab mengapa begitu banyak musisi dan artis Indonesia memilih bergabung dengan Musica Studio’s. Sebab pertama terkait dengan kenyataan Musica Studio’s-lah yang mengorbitkan artis-artis itu. Nidji dan Letto adalah dua contoh nyata. Kedua grup itu memulai karirnya dengan mengirimkan demo musik mereka ke Musica Studio’s.

Dari pengalaman Letto, sebuah grup musik dari Yogyakarta, sebuah album kompilasi menjadi jalan antara, sebelum Musica Studio’s benar-benar mengeluarkan album kelompok itu. Setelah album demo mereka kirim, langkah awal mereka di dunia musik segera dimulai dengan membuat album kompilasi bersama beberapa musisi lainnya.

Anggota-anggota Letto tidak tahu persis mengapa pada akhirnya mereka yang dipilih Musica Studio’s untuk membuat album sendiri. Padahal saat album kompilasi berbagai penyanyi dengan judul ”Pilih 2004” itu dipasarkan, lagu mereka tidak dikenal. Jarak antara keluarnya album kompilasi dengan album pertama mereka juga cukup jauh.

”Saat di album kompilasi mereka menentukan rating gitu. Padahal kita tuh bukan di lagu pertama. Lagu pertama tuh grup dari Bandung kalo ga salah. Ga tahu tuh ke mana mereka sekarang. Tapi mereka membuat rating sendiri. Dari situ mereka menawari bikin album. ” (Letto, 5 Juni 2008).

Insting dan kepekaan orang-orang di Musica Studio’s terbukti sangat kuat. Album pertama Letto yang berjudul Truth, Cry and Lie, ternyata meledak. Double platinum diraih kelompok yang digawangi Noe, Patub, Arian, dan Dedi. Itu berarti, album pertama mereka terjual setidaknya 300. 000 buah.

Kehebatan divisi A&R Musica Studio’s, yaitu divisi perekrutan artis di sebuah perusahaan rekaman, memang sudah lama terbukti. Banyak artis dan musisi yang sebelumnya belum memiliki nama direkrut Musica Studio’s dan akhirnya terbukti dapat memiliki album yang meledak.

Insting yang kuat menjadi kelebihan mereka, selain tentunya kemampuan menilai apakah sebuah grup atau lagu bisa diterima pasar. Kehebatan mereka ini bahkan diakui para pesaingnya dari label-label lain. Risman Mawardi, seorang produser indie dan managemen artis menjuluki kelebihan mereka sebagai ”kuping Indonesia”.

”Kelebihannya adalah kuping ya. Kemampuan mendengarkan produk karena mereka adalah orang-orang Indonesia yang tidak diracuni produk-produk luar jadi kuping mereka lebih Indonesia. Mereka lebih bisa memprediksi sebuah produk bisa dijual atau tidak.”

Kuping Indonesia bisa diartikan kemampuan membaca selera pasar kebanyakan orang Indonesia. Kemampuan memprediksi apakah sebuah lagu atau suatu gaya bermusik bisa diterima pasar. Kemampuan ini nyatanya tidak hanya dimiliki para staf mereka di divisi A&R, tapi juga hingga ke pemiliknya.

Pemilik Musica Studio’s langsung turun tangan dalam perekrutan artis, bukan hanya dilakukan oleh Indrawati Widjaja. Ia mungkin hanya mencontoh perilaku sang ayah, Amin Widjaja. Pria yang biasa disapa Amin Cengli itu, membujuk Chrisye membuat album solo di bawah bendera Musica Studio’s, hampir 30 tahun yang lalu.

Padahal saat itu, Chrisye belum lagi dikenal sebagai penyanyi solo. Bujuk rayu dari seorang pendiri label musik ternama itu, tidak dapat begitu saja dilupakan oleh Chrisye yang pada masa itu belum lagi masuk dalam jajaran musisi top Indonesia. Hal ini secara khusus diungkapkan sang legenda dalam biografinya yang ditulis Alberthiene Endah:

”Tak berapa lama setelah restu yang diberikan Papi dalam suasana yang emosional itu, saya ditemui seseorang di rumah. Dia adalah Amin Widjaja, produser kenamaan, bos PT Musica Studio. Pria sukses yang rendah hati ini langsung bicara to the point.

’Chris, gimana kalau kita bekerja sama. Siapa tahu kita cocok…’ Amin bicara di ruang tamu rumah Papi. Apa yang ditawarkan Amin? Ia mengajak saya rekaman album solo! Tidak bergantung pada band mana pun di belakang saya.

’Saya terkesan dengan suara kamu, Chris. Dan feeling saya, suara kamu akan sangat digemari pasar’, katanya tanpa basa-basi. Sebetulnya Amin sudah mengamati saya sejak album Guruh Gipsy dan Jurang Pemisah. Namun, dia baru memutuskan untuk menemui saya setelah meledaknya Badai Pasti Berlalu. Ia buru-buru menyatroni saya segera. ’Dari pada ntar disamber produser lain’, ujarnya tertawa.

Langkah Amin Widjaja merekrut Chrisye untuk membuat album solo terhitung langkah yang berani. Saat itu, Chrisye belum dikenal sebagai penyanyi solo. Chrisye memang mengawali karir dengan terlibat pada beberapa grup Band seperti Gank Pengangsaan atau Gipsy Band. Tidak heran, tawaran Amin Widjaja mengagetkannya. Apalagi suara Chrisye yang cenderung lembut belum biasa didengar orang dari seorang penyanyi pria di Indonesia.

Langkah Amin Widjaja itu seakan membuktikan teori mengenai paradox desiderata dalam industri budaya popular. Untuk bisa menjadi produk yang dikenal, Chrisye memiliki gaya bermusik dan pilihan lagu yang mewakili selera banyak orang. Namun di sisi lain, vokal lembut Chrisye menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali. Kelebihan yang membuat seorang Chrisye mudah diingat publik musik Indonesia.

Karena itu, bukan sesuatu yang aneh jika kemudian banyak lagu Chrisye yang cenderung abadi, tetap diingat meski telah puluhan tahun berlalu sejak albumnya dikeluarkan. Galih dan Ratna, Puspa Indah Taman Hati, Badai Pasti Berlalu atau Lilin-lilin Kecil hanyalah beberapa dari ratusan lagu Chrisye yang tetap diingat penggemarnya. Insting Amin Widjaja dan Musica Studio’s dengan merekrut dan mengorbitkan Chrisye terbukti benar.

Merekrut dan mengorbitkan musisi yang memiliki ciri khas memang menjadi ciri Musica Studio’s. Lagu-lagu Letto jika didengarkan dengan teliti merupakan peleburan antara brit-pop dengan nada-nada pentatonis khas musik daerah di Indonesia. Nidji juga memiliki warna brit-pop yang sangat kuat hingga sering disebut-sebut sebagai U2 Indonesia. Namun demikian, nada dominan dalam musik Indonesia, yaitu musik pop menjadi unsur utama lagu-lagu kedua band itu. Lagi-lagi sebuah paradox desiderata.

Indriati Yulistiani

[Sumber: Hasil obrolan dengan grup band Letto, Nidji dan Risman Mawardi. Data dan referensi lain diambil dari buku: Chrisye, Sebuah Memoar Musikal karya Alberthiene Endah dan tulisan Gordon Welty, Theodore Adorno and The Cultural Industry. Tulisan ini merupakan cuplikan (dengan penulisan ulang di sana-sini) dari tesis penulis, yang insyaallah akan diterbitkan sebagai buku.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s