Who Speaks for Islam?

3

Minggu, 26 Oktober 2008 oleh Billy Soemawisastra


Judul di atas, merupakan judul buku yang ditulis oleh Profesor John L. Esposito dan Dalia Mogahed. Diterbitkan oleh Gallup Press, akhir 2007. Di Indonesia, buku ini diterjemahkan dengan judul: “Saatnya Muslim Bicara” (PT. Pustaka Mizan, 2008). Isinya merupakan hasil penelitian (jajak pendapat) Gallup World Poll terhadap satu milyar lebih umat Islam di seluruh dunia, mengenai masalah-masalah kekinian seperti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), terorisme, anarkisme dan pandangan kaum Muslim terhadap Barat.

Survey ini dilakukan pada akhir 2001, pasca-serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC) New York, Amerika Serikat, dan baru selesai pada penghujung 2007. Gagasan untuk membuat survey ini, dipicu oleh semakin tumbuhnya pandangan negatif masyarakat Barat (khususnya AS) terhadap umat Islam, akibat serangan teroris tersebut.

Pasca-tragedi WTC, diskriminasi atau kebencian terhadap kaum Muslim semakin meluas. Hasil jajak pendapat Gallup yang dilakukan pasca tragedi tersebut, menunjukkan, hampir separuh warga AS (44%) berpendapat bahwa kaum Muslim terlalu ekstrim dalam beragama, dan hampir seperempat (22%) penduduk AS tidak ingin bertetangga dengan orang Islam, karena orang Islam dianggap berbahaya. Hampir separuh warga Amerika, meragukan kesetiaan Muslim Amerika, terhadap Negara Amerika Serikat.

Kecaman-kecaman bernada kebencian terhadap Islam (Islamophobia) ini, sering ditunjukkan melalui berbagai media, termasuk wawancara-wawancara televisi. Orang Amerika tampaknya sudah menggeneralisasikan kaum Muslim sebagai umat yang anti-demokrasi, cenderung memusuhi Amerika, sehingga berpotensi menyerang Amerika melalui kegiatan terorisme.

Padahal, survey yang dilakukkan Gallup kemudian membuktikan bahwa sebagian besar umat Islam justru mengutuk terorisme, membenci anarkisme, dan mencintai sistem demokrasi. Adanya ketidaksukaan umat Muslim terhadap Amerika, itu lebih disebabkan standar ganda yang diterapkan Amerika Serikat dalam menghadapi negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, terutama negara-negara Timur Tengah.

Prasangka buruk masyarakat Amerika terhadap umat Islam itu, ditepis oleh John L. Esposito dan Dalia Mogahed, sejak bab pertama buku ini. Diuraikan secara rinci, ajaran Islam yang sebenarnya mencintai kedamaian, sesuai dengan akar kata Islam yang berarti damai, dan bahwa Jihad mempunyai makna yang sangat luas, bukan hanya perjuangan bersenjata, dan tidak identik dengan terorisme. Bahkan dalam peperangan sekalipun, etika Islam melarang penyerangan terhadap warga sipil. Ajaran Islam yang diyakini sebagian besar kaum Muslim itu, tentunya sangat bertolak-belakang dengan tindakan anarkisme dan terorisme yang mengorbankan masyarakat sipil.

Hasil survey Gallup yang dilakukan pasca-tragedi WTC, membuktikan bahwa sebagian besar umat Islam di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim ternyata tidak menyetujui tindakan terorisme atau serangan terhadap penduduk sipil (74% di Indonesia, 86% di Bangladesh, 80% di Iran). Angka ini bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan sikap warga Amerika terhadap serangan terorisme. Hanya 46% masyarakat Amerika yang menganggap pengeboman dan serangan terhadap penduduk sipil tidak dapat dibenarkan. Sementara 24% warga Amerika percaya bahwa serangan semacam itu “sering atau terkadang bisa dibenarkan”.

Di bab pertama buku ini, ditunjukkan pula fakta-fakta bahwa sebagian besar umat Islam yang menyebar di sekitar 57 negara di dunia, justru berada di luar kawasan Arab, dan memiliki budaya lokal yang beragam. Muslim Arab hanya sekitar 20% dari keseluruhan populasi Muslim dunia. Fakta ini tampaknya penting dikemukakan karena masyarakat Barat beranggapan seakan-akan Islam identik dengan Arab, dan bangsa Arab dianggap menyukai kekerasan. Padahal bahkan di negara-negara Arab pun, survey Gallup menunjukkan, sebagian besar umat Islam mengaku “memiliki banyak cinta dalam hidupnya”. (95% responden Mesir dan 92% responden Arab Saudi). Ini berarti, sebagian besar umat Islam di mana pun lebih menyukai kedamaian, dan tidak suka dengan kekerasan.

Pada bab selanjutnya, diuraikan hasil survey mengenai pandangan Muslim terhadap demokrasi. Hasilnya ternyata mengejutkan, mengingat Barat selama ini menilai umat Islam anti-demokrasi. Di hampir semua negara yang disurvey, sebagian besar responden memilih sistem demokrasi, sebagai sistem yang layak menata kehidupan berbangsa dan bernegara mereka (95% di Burkina Faso, 94% persen di Mesir, 93% di Iran, dan 90% di Indonesia). Dukungan atas sistem demokrasi ini, ternyata pula cukup besar di kalangan radikal politik Muslim (50%). Kaum radikal politik Muslim menyatakan bahwa “bergerak menuju demokrasi ke pemerintahan yang lebih baik” akan meningkatkan kemajuan di dunia Arab/Muslim.

Muslimah Palestina.

Para responden di negara-negara yang disurvey, umumnya berpendapat bahwa ajaran Islam tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Bahwa ada negara-negara berpenduduk mayoritas Islam (terutama di kawasan Arab) yang tidak menerapkan demokrasi, tidak berarti bahwa umat Islam anti-demokrasi. Sebaliknya mereka juga tidak percaya bahwa Amerika Serikat yang selalu menggembar-gemborkan diri sebagai pelopor demokrasi itu benar-benar menerapkan demokrasi. Hanya 24% persen responden di Mesir dan Yordania dan 16% di Turki yang percaya bahwa Amerika Serikat serius menegakkan sistem demokrasi. Kelompok terbesar yang tidak percaya atas konsistensi AS dalam berdemokrasi adalah Lebanon (54%), Sierra Leone (68%) dan Afghanistan (53%).

Yang paling tidak percaya bahwa AS benar-benar serius menerapkan demokrasi, adalah kaum radikal politik Muslim (72%). Tetapi kaum Muslim moderat pun sama-sama tidak percaya akan hal itu (52%). Itu lantaran Amerika Serikat memiliki standar ganda dalam hal penegakkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia di negara-negara Arab/Muslim. Ketika ditanyakan kepada responden di 10 negara berpenduduk mayoritas Muslim, tentang cara mereka memandang Amerika, sifat paling kuat yang mereka asosiasikan dengan AS adalah: kejam (68%), agresif (66%), angkuh (65%) dan rusak moral (64%). Tetapi mereka juga mengakui bahwa Amerika Serikat maju dalam sains dan teknologi (68%).

Muslimah di Inggris.

Masyarakat Muslim umumnya sangat mengagumi kemajuan teknologi dan kebebasan berpendapat di negara-negara Barat. Bahkan Amerika Serikat, secara khusus dipandang sebagai negara yang mempunyai sistem peradilan yang jujur karena menghargai hak-hak asasi warganya. Tetapi mereka kecewa dengan kekejaman AS terhadap warga Muslim di Abu Ghraib, Guantanamo dan tempat-tempat lainnya. Sehingga Amerika pun dinilai munafik dalam hal penerapan hak-hak asasi manusia. Meskipun Amerika sering menggambarkan dirinya sebagai juara hak-hak asasi manusia di dunia.

Muslim di RR Cina.

Buku ini lebih ditujukan bagi masyarakat Barat, terutama Amerika Serikat, agar mengubah cara pandang mereka terhadap dunia Islam. Ini lantaran orang-orang Barat itu sebenarnya tidak mengenal ajaran Islam dan sikap hidup kaum Muslim yang sebenarnya. Masyarakat Amerika yang disurvey Gallup, umumnya menjawab “tidak tahu” ketika ditanyakan kepada mereka, apakah mereka tahu dan pernah mempelajari agama Islam dan sikap hidup kaum Muslim.

Proyek Raksasa Gallup World Poll untuk Membela Islam.

Apa yang dilakukan Profesor John L. Esposito dan Dalia Mogahed serta seluruh peneliti yang tergabung di lembaga survey tertua dan terbesar di dunia, Gallup World Poll, sehingga menghasilkan buku yang sangat komprehensif ini, benar-benar merupakan proyek raksasa. Survey yang berlangsung selama tujuh tahun itu tidak hanya dilakukan di seluruh negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi juga di negara-negara yang penduduk Muslimnya tergolong minoritas, seperti di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, Cina, Jepang dan India.

John L. Esposito

Di negara-negara besar, yang 80% penduduknya atau lebih memiliki saluran telepon, survey dilakukan dengan menghubungi nomor telepon secara acak (Random Digit Dial, RDD). Situasi khusus ini antara lain dilakukan di Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropa Barat dan Jepang. Sedangkan di Negara-negara berkembang seperti sebagian besar Amerika Latin, bekas Negara-negara Uni Soviet, hampir semua Negara Asia, Timur Tengah dan Afrika, dipergunakan rancangan berkerangka wilayah, untuk wawancara tatap muka. Wawancara tatap muka berlangsung sekitar satu jam untuk setiap responden, sedangkan wawancara via telepon berlangsung sekitar 30 menit. Populasi target meliputi semua individu berusia 15 tahun ke atas.

Dalia Mogahed

Hasilnya adalah sebuah buku yang sepenuhnya membela dunia Islam. Buku yang mengimbau dunia Barat agar mendekati dunia Islam dengan menaklukan hati kaum Muslim, bukan dengan kekuatan bersenjata. Berdasarkan hasil survey ini, John L. Esposito dan Dalia Mogahed, menyatakan tidak setuju atas teori “benturan peradaban” antara Islam dan Barat, seperti yang pernah dikemukakan Samuel P. Huntington dan para pendukungnya.

Benturan peradaban tidak mungkin terjadi karena sikap kaum Muslim terhadap masalah-masalah kekinian, hakikatnya tidak berbeda dengan sikap masyarakat Barat. Apalagi, berdasarkan hasil survey, mayoritas kaum Muslim di dunia adalah Muslim moderat. Kaum radikal Muslim hanya berkisar tujuh persen, dan mereka pun masih bisa didekati dengan pendekatan kemanusiaan, atau dengan menaklukan hati mereka.

Kaum radikal yang berpotensi melakukan tindakan terorisme jauh lebih sedikit lagi. Tindakan terorisme yang mereka lakukan pun sebenarnya tidak mempunyai relevansi dengan ajaran Islam, tetapi lebih berlatar-belakang politik. Bukti-bukti bahkan menunjukkan bahwa para teroris itu (termasuk yang meledakkan menara kembar WTC) bukanlah Muslim yang taat. Jika Barat mampu menaklukan hati kaum Muslim secara keseluruhan, potensi terorisme yang mengatasnamakan Islam, lambat-laun akan tereliminasi.

Billy Soemawisastra

[Foto-foto Muslim di RR Cina, Muslimah di Inggris dan Palestina, diambil dari: http://5pillar.wordpress.com, http://group.colgate.edu, dan www.theasiannews.co.uk]

3 thoughts on “Who Speaks for Islam?

  1. Al Chaidar mengatakan:

    Mas Billy, senang dapat pesan dari Anda. Saya sekarang sedang menerbitkan buku dengan tema yang agak mengerucut: Negara Islam Indonesia, antara fitnah dan realita. Akan kita release awal bulan depan. Saya akan mengirim satu buat Mas Billy. Saya sebenarnya malu ditanya oleh “orang besar” seperti Anda yang karya-karyanya selalu menjadi referensi saya untuk lebih memperluas cakrawala saya, yang ketahanan (endurance) intelektualnya jauh melebihi energi fisik dan spiritual saya. Terimakasih sudah menyambangi saya. Saya sangat menikmati review “Who Speaks for Islam?” Anda. Tanpa itu saya agak gamang dalam menentukan arah wacana.

  2. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Bung Chaidar, justru Andalah yang saya kagumi selama ini. Produktivitas Anda sebagai intelektual muda, luar biasa. Saya bahkan belum bisa menulis satu buku pun. Saya tunggu bukunya. Insyaallah akan saya buatkan resensi di blog ini.

  3. sufimuda mengatakan:

    Mas Billy,
    Informasi seperti ini perlu disampaikan dengan seluas-luas nya agar masyarakat tahu bahwa Islam tidak identik dengan kekerasan.
    Islam yang bisa bertahan ditengah peradaban dunia adalah Islam yang toleran dan cinta damai.
    Sudah saatnya Mentalitas Islam Warisan Abad Pertengahan yang penuh kekerasan digantikan oleh Islam Abad 21 yang lebih beradab.

    Salam Damai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: