Ketika Agama Dijadikan Alat Politik

4

Senin, 2 Februari 2009 oleh Billy Soemawisastra


“Jangan jadikan agama sebagai ‘ayam potong’.” Kata-kata ini masih terngiang di telinga saya, meski telah diucapkan sekitar 33 tahun yang lalu. Yang mengucapkannnya adalah seorang dosen di fakultas saya, dan saat itu saya baru saja duduk di bangku kuliah, semester pertama.

Istilah “ayam potong” yang digunakan dosen tersebut, memang sangat tepat. Mengingat di negeri ini, agama (terutama agama Islam yang dipeluk mayoritas penduduk) selalu saja dijadikan komoditas pada setiap peristiwa politik.

Agama “dipotong” beramai-ramai, untuk kemudian dihidangkan dagingnya sebagai camilan rakyat yang — anehnya — selalu saja dilahap dengan penuh semangat. Padahal sebenarnya rakyat sedang dibohongi oleh kelompok-kelompok politik yang memperalat agama, untuk kepentingan mereka.

Selain dijadikan ayam potong, sering pula agama dijadikan “pentungan”. Alat pukul untuk menghajar kelompok-kelompok masyarakat yang tidak disukai kelompok tertentu. Atau alat untuk menekan dan menakut-nakuti umat, agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Terlalu banyak jika dirinci satu per satu, kapan dan seperti apa agama diperalat untuk kepentingan politik. Saya hanya akan memberikan beberapa contoh yang terjadi pada era reformasi. Misalnya, sebagian ulama pernah mengeluarkan fatwa untuk tidak memilih calon presiden berjenis kelamin perempuan, karena perempuan dianggap tidak akan mampu berbuat adil sebagai pemimpin.

Fatwa yang sangat bernuansa jender ini, dikeluarkan untuk menjegal Megawati yang mengajukan diri sebagai calon presiden. Tetapi tak lama kemudian, fatwa ini dicabut. Umat diperbolehkan memilih calon presiden perempuan dengan alasan darurat, dan jika dipandang lebih banyak manfaatnya ketimbang mudaratnya.

Masih dalam upaya menjegal Megawati, beberapa ulama pernah meminta umat Islam Indonesia untuk tidak memilih calon pemimpin yang “tidak jelas agamanya”. Fatwa ini muncul gara-gara Megawati ikut menghadiri ritual agama Hindu Darma, di salah satu pura di pulau Dewata. Namun fatwa ini pun raib diterbangkan angin setelah para pendukung Megawati menyatakan bahwa Mbak Mega adalah seorang muslimah tulen, apalagi setelah Ketua Umum PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) ini berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah haji.

K.H. Abdurrahman Wahid pun pernah “meminjam” agama untuk mempertahankan kekuasaannya, ketika ia masih menjadi presiden. Sebagian ulama NU (Nahdlatul Ulama) atau lebih tepatnya para ulama PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) mengeluarkan fatwa bughot yang berarti makar, bagi lawan-lawan politiknya yang menghendaki agar Gus Dur turun dari kursi kepresidenan.

Dan, belakangan, tiba-tiba saja MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram, bagi umat Islam yang tidak mau menggunakan hak pilihnya alias golput (golongan putih) pada Pemilu 2009. Sebenarnya, fatwa MUI ini tidak muncul secara tiba-tiba alias tidak perlu mengagetkan, karena sebelumnya beberapa politisi yang tampaknya khawatir partainya tidak jadi pemenang dalam Pemilu, mengojok-ojok MUI agar segera mengeluarkan fatwa haram bagi golput.

Salah satu politisi yang pernah mengimbau MUI agar mengeluarkan fatwa haram bagi golput itu, adalah Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) Hidayat Nur Wahid. Walau kemudian dibantahnya.

Dari beberapa contoh di atas, muncul kesan (paling tidak, kesan saya pribadi) bahwa sebagian ulama Islam di Indonesia, sangat gampang diombang-ambingkan berbagai kepentingan politik. Atau, jangan-jangan, ulama-ulama itu sebenarnya adalah para politisi. Pada gilirannya, umatlah yang kemudian dibuat kebingungan oleh fatwa-fatwa tersebut.

Saya jadi teringat Cak Nur (almarhum Nurcholish Madjid) yang selalu menganjurkan umat Islam Indonesia agar memisahkan agama dengan politik. Slogannya yang terkenal: “Islam Yes, Partai Islam No” mengandung harapan agar agama tidak diperalat untuk kepentingan politik.

Namun kemudian banyak ulama yang marah dengan anjuran seperti itu. Agama Islam, menurut mereka, tidak bisa dipisahkan dari politik. Lalu mereka pun merujuk pada kepemimpinan Rasulullah Muhamad SAW di Madinah, yang menata kehidupan masyarakat berlandaskan ajaran Islam. Tetapi mereka lupa bahwa Rasulullah tidak pernah memperalat ajaran Islam untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk kemaslahatan umat secara keseluruhan.

Ajaran Islam yang dibawa Rasulullah, justru berhasil membuat umat tidak terpecah belah. Tetapi perhatikanlah fatwa-fatwa yang dikeluarkan para ulama Indonesia. Fatwa-fatwa bernuansa politik yang mereka luncurkan, seringkali membuat umat berpuak-puak, saling mencurigai, saling bermusuhan, saling membenci. Bahkan ada fatwa MUI yang membuat kelompok-kelompok tertentu merasa berhak melakukan tindakan anarki, terhadap kelompok masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka.

Untungnya, masyarakat Indonesia pada umumnya, kini sudah menjadi semakin dewasa. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI, ataupun fatwa yang dikeluarkan kelompok-kelompok ulama lainnya, tidak serta-merta diterima secara taklid (tanpa reserve). Ironisnya, lama-kelamaan, sikap kritis masyarakat ini bisa membuat para ulama kehilangan legitimasi. Sekarang saja, tak sedikit anggota masyarakat yang menjadikan fatwa pengharaman golput sebagai bahan tertawaan. Malahan tak sedikit pula yang melontarkan tanya, apakah MUI “kurang kerjaan”?

Billy Soemawisastra

4 thoughts on “Ketika Agama Dijadikan Alat Politik

  1. racheedus mengatakan:

    Al-Ghazali membedakan ulama jadi dua macam,ulama su’u dan ulama khair. Ulama su’u adalah ulama yang mendekati penguasa. Ulama khair adalah ulama yang bisa menjaga jarak dengan penguasa dan tetap menjaga independinya. Saya hanya berharap, para ulama yang mengeluarkan fatwa itu bukan termasuk kategori ulama su’u seperti yang dikatakan al-Ghazali.
    Meski demikian, Islam juga tidak mengharamkan politik. Bahkan Nabi sendiri seorang politikus handal. Para ulama pun tidak perlu dilarang berpolitik. Dalam kajian Islam sendiri, ada fikih siyasah, fikih politik. Persoalannya adalah bagaimana politik yang dilakukan tetap berwajah santun dan bisa merangkul berbagai kelompok yang ada, bahkan kelompok-kelompok lain di luar Islam, sebagaimana Nabi Muhammad tetap bisa menerima keberadaan kelompok Yahudi dan Nasrani saat di Madinah.

  2. soegeng soediro mengatakan:

    Terus terang saja, saya meragukan apa yang”mereka” fatwakan itu dimengerti apa tidak.Jangan-jangan latah dan tidak tahu apa-apa.

  3. Pambudi Nugroho mengatakan:

    Salam Sejahtera Bung Billy ,

    Saya mengagumi sikap kritis anda terhadap pemuka agama.
    Buat saya, Golput adalah salah satu sikap berdemokrasi.
    Jika rakyat tetap tertindas dan menderita, berarti mereka bebas menyatakan ketidakpuasan mereka dengan cara tidak berpartisipasi. namun tanpa “ darah hidup” berupa tindakan, demokrasi akan mulai melemah. Karena kebebasan berbicara dan berpendapat adalah darah hidup setiap demokrasi. Berdebat dan memberikan suara, berserikat dan memprotes serta beribadah akan menjamin keadilan bagi semua. seperti kata Presiden AS ke 16 Abraham Lincoln mengatakan demokrasi adalah suatu pemerintahan “ dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat”

    Ulama menurut saya, sebagai pengontrol jalannya pemerintahan yang dikendalikan penguasa.Seperti yang dicontohkan Khalid bin Sa’id, sebagai rakyat setiap Muslim juga punya kewajiban sebagai da’i yang selalu memberikan peringatan kepada pemimpin. Dengan menjalankan peran itu, setiap Muslim, terutama para da’i dan aktivis, akan melengkapi sendi-sendi stabilitas dunia yakni: keberdayaan ulama (dengan ilmunya); keadilan para penguasa; kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana semestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

    Seingat saya , keadilanpun merupakan salah satu tugas dan tauladan Rasulullah SAW yang harus ditegakkan. (Al-Baqarah 143). Dalam ajaran kami umat nasrani , Nabi Amos ,
    Habakuk , memberikan teladan untuk kritis ketika keadilan tidak berpihak , terutama rakyat jelata. Seperti Khalil Gibran yang menghantam pemuka agama Libanon. Pemeluk agama apapun harus berani menyuarakan kebenaran ( suara nabi ) untuk kritis dan tidak “Mandul” ketika penguasa berbuat tidak adil terhadap rakyatnya. karna konon Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.

    Mohon maaf komentar saya terlalu panjang Bung.Jika bung berkenan blog jagatalit akan saya tautkan kedalam blog saya ( Blog saya masih kemarin sore ,bung ).

    Salam dan Tuhan memberkati kesehatan bung dan keluarga.
    Pambudi Nugroho

  4. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Bung Pambudi,

    Saya juga mengagumi Anda atas luasnya pemahaman Anda tentang pemikiran Islam. Seharusnya seperti itulah kita, saling mempelajari ajaran agama saudara-saudara kita. Yang Muslim mempelajari ajaran dan pemikiran Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi dan lain sebagainya. Pun, begitu sebaliknya. Dengan demikian kita akan menjumpai “titik temu” yang sama. Karena sepanjang pengetahuan saya, ajaran-ajaran semua agama yang ada di dunia ini, lebih banyak persamaannya, ketimbang perbedaannya. Persamaannya justru terletak pada ajaran inti masing-masing agama, yakni: menyembah dan berserah diri kepada Tuhan yang sama, dan menganjurkan berbuat kebaikan pada sesama manusia.

    Saya ingat pada salah satu email yang pernah Anda kirimkan, Anda mengutip Kitab Nahjul Bhalaghah karangan Imam Ali bin Abi Thalib. Bukan main. Itu kitab yang sangat bagus, berisi ajaran-ajaran spiritual yang sangat universal. Para pemuda Muslim saja (terutama yang tinggal di Indonesia) masih banyak yang belum membacanya. Tetapi Anda sudah. Teruskan Bung.

    Saya senang sekali atas kunjungan Anda yang cukup sering ke Jagat Alit, dan saya juga sangat bergembira dengan keinginan Anda untuk menautkan Jagat Alit ke blog Anda. Saya juga akan menautkan http://rawapada.wordpress.com ke blog saya.

    Jangan kecil hati dengan blog yang Anda katakan “masih kemarin sore”. Segala sesuatu di atas semesta ini selalu ada awalnya. Sekali Anda mulai ngeblog, teruslah ngeblog. Saya yakin orang seperti Anda tidak akan kekurangan inspirasi untuk menulis dan terus menulis guna menyebarkan cinta dan kedamaian bagi seluruh umat.

    Semoga Tuhan memberkati Anda, teman-teman Anda, dan seluruh keluarga Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: