Ketika Anarkisme Semakin Membudaya

3

Kamis, 5 Februari 2009 oleh Billy Soemawisastra


Ada satu kosa kata bahasa Melayu (baca: bahasa Indonesia) yang cukup terkenal di lingkup internasional, paling tidak lantaran kosa kata tersebut termaktub dalam beberapa ensiklopedi, di antaranya Encyclopaedia Americana. Kosa kata itu adalah: “Amuk” (orang Bule menulisnya: “Amok”).

Sebuah kata yang menunjukkan betapa orang Indonesia itu, sejak dulu, gampang marah. Dan, kalau sudah marah, mereka akan mengamuk, menyerang dan membunuh siapa saja yang berada di dekatnya. Amuk bisa dilakukan secara individual, bisa juga secara berkelompok alias main keroyokan alias tawuran (amuk massa).

Orang-orang Portugis dan Belanda yang pernah menjajah negeri ini, sudah sangat sering dan bahkan sudah sangat terbiasa menyaksikan peristiwa Amuk yang dilakukan kaum pribumi. Mereka pun menceritakan tradisi Amuk ini secara turun-temurun, sebagai peringatan kepada anak-cucu mereka agar berhati-hati bila berkunjung ke Indonesia. Sebab salah langkah sedikit saja bisa menjadi sasaran Amuk.

Akhirnya, setiap kali mereka ingat Indonesia, mereka pun akan ingat kebiasaan kaum pribumi melakukan tindakan Amuk (mengamuk). Sehingga wajarlah bila kemudian kata Amuk pun masuk ke dalam ensiklopedi mereka. Dengan kata lain, tuan-tuan dan nyonya-nyonya dari negeri Barat tersebut, sejak zaman baheula sudah sangat mafhum bahwa orang Indonesia itu akrab sekali dengan anarkisme.

Tentunya tidak perlu malu bila kata Indonesia dianggap lebih asosiatif dengan kata Amuk, bukan kata Makmur, Sentosa, Indah, Ramah-tamah atau Damai. Munculnya frasa: “Indonesia yang Makmur,  Indah, Damai dan Sentosa”, itu berkat upaya para Bapak Bangsa yang ingin mengangkat citra Indonesia di mata dunia, agar Indonesia tidak hanya dikenal kebrutalannya. Begitu pula frasa: “Rakyat Indonesia yang Ramah-tamah”. Tetapi Makmur, Sentosa, Ramah-tamah, Damai dan Indah, adalah kata-kata yang lebih mengandung harapan, ketimbang kenyataan. Sedangkan Amuk, adalah kenyataan yang sering kita saksikan.

Salah satu buktinya, kita saksikan beberapa hari lalu. Ketua DPRD Sumatera Utara H. Abdul Aziz Angkat, tewas dikeroyok massa yang menyerang, mengamuk di ruang sidang paripurna. Anarkisme ini terjadi lantaran keinginan para pengunjuk rasa yang mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli, tidak ditanggapi oleh para anggota dewan.

Anarkisme massa, yang selama ini “hanya” berlangsung di jalan-jalan, tampaknya sudah mulai masuk ke ruang-ruang yang seharusnya dihormati, seperti ruang sidang paripurna DPRD. Di ruang-ruang seperti itu, keributan yang terjadi semestinya hanya sebatas perang mulut, adu argumentasi, bukan kekerasan fisik. Tetapi tampaknya, banyak di antara kita, yang lebih suka menyelesaikan persoalan dengan kekerasan fisik, bukan melalui dialog dan musyawarah.

Kecenderungan ini semakin memperkuat kesan bahwa Amuk alias anarkisme, memang sudah membudaya di negeri kita. Begitu banyak rangkaian kekerasan yang memakan korban jiwa, terjadi di negeri kita, dan begitu cepat kita melupakannya. Peristiwa Tanjung Priok 1984, Peristiwa 27 Juli 1996, Peristiwa Mei 1998, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, hanya beberapa di antaranya. Tindakan pengusutan terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, tidak pernah selesai dengan tuntas. Bahkan tak sedikit di antaranya yang berakhir dengan nasib “dipetieskan”.

Pemerintah (termasuk aparat keamanan) masih terkesan tidak tegas dalam menindak para pelaku anarkisme. Bahkan ada beberapa kasus anarkisme, yang tampaknya memang sengaja “dibiarkan”. Jika kasus tewasnya almarhum Abdul Aziz Angkat tidak diselesaikan setuntas-tuntasnya dan transparan, bukan tak mungkin kita akan menyaksikan lagi kasus-kasus serupa di hari-hari mendatang. Bahkan mungkin lebih parah dari itu. Dan, lama-kelamaan, kita akan menjadi imun dengan rangkaian kekerasan demi kekerasan. Atau, jangan-jangan, kita memang sudah imun. Mengerikan.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat di www.liputan6.com]

3 thoughts on “Ketika Anarkisme Semakin Membudaya

  1. soegeng soediro mengatakan:

    Ironis, dramatis sekaligus memuakkan, bangsa yang konon ramah tamah tetapi bisa menjadi beringas dan ganas memangsa bangsanya sendiri (INGAT KORBAN PEMBALASAN PERISTIWA g.30.S).
    Menyedihkan, sebab seperti halnya ini dibiarkan, dan ada “pembiaran” oleh aparatnya.Pada usinya yang” …….” tampak belum matang menjadi bangsa beradab,Dan sampai kapan………????????????

  2. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Betul sekali, Pak Sugeng. Bangsa kita tidak pernah dewasa, padahal usianya sudah lebih dari setengah abad. Keramah-tamahan yang sering kita sebut-sebut sebagai kelebihan bangsa kita, tampaknya hanya keramah-tamahan di permukaan. Bukan keramah-tamahan yang tulus dan berasal dari kedalaman hati. Agaknya, di dalam hati bangsa ini, tersimpan dendam dan amarah yang tidak pernah ada habisnya. Itu semua karena kaum elit bangsa ini selalu saja memanfaatkan sentimen rakyat untuk kepentingan politik mereka. Hasil penyidikan polisi di Medan, menunjukkan bahwa para pengunjuk rasa yang mengamuk dan menyebabkan terbunuhnya Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat itu, adalah para demonstran bayaran. Mereka tega menganiaya dan membunuh orang, hanya dengan dengan bayaran 20 ribu rupiah per demonstran.

    Kita tidak tahu sampai kapan rangkaian kekerasan ini akan berakhir. Kalau kita inventarisasikan peristiwa-peristiwa kekerasan (pembantaian dan pembunuhan) yang terjadi di negeri ini sejak awal kemerdekaan hingga sekarang, bulu kuduk kita akan bergidik.

    Terima kasih atas komentarnya, Pak Sugeng. Semoga Tuhan selalu memberkati Bapak.

    Salam dari Tanah Air yang selalu menangis.

  3. ahmed shahi kusuma mengatakan:

    Pak Billy salam kenal.
    Selamat berkarya. Tulisan Bapak menarik dan saya senang baca tulisan Bapak, cuma Pak saya tidak setuju dengan kata Anarkisme yang bapak pake…….
    Pak anarkisme bukan berarti kerusuhan. Anrakisme adalah ajaran yg menganggap bahwa orang perorang sudah cukup dewasa untuk mengatur hubungan dengan orang yg lain, dan berarti tidak lagi membutuhkan otoritas.
    Para pendiri agama yg suci seperti Gautama dan Yesus adalah penganjur kuat anarkisme ( itu kalo menurut saya )
    Maaf ya Pak….
    Semoga bapak berkenan bermain ke tempat saya (blog saya)
    Maassalam !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: