Tanah Papua Zona Darurat (2)

Tinggalkan komentar

Jumat, 15 Mei 2009 oleh Arthur John Horoni


Tanah Merah Baru: Mama-mama tak Bisa lagi Menjaring Udang

Bila rakyat Sebyar telah bergerak menggugat BP Tangguh, komunitas Tanah Merah Baru yang hanya dibatasi pagar dengan proyek, seolah terbuang tak berdaya. Kampung Tanah Merah Baru (TMB), dibangun BP Tangguh untuk relokasi penduduk Tanah Merah Lama yang areanya dibeli Proyek LNG Tangguh. Sekitar 101 rumah dibangun di Tanah Merah Baru, kawasan yang dibeli BP dari marga Simuna, Suku Sumuri, sedangkan sebahagian lagi dibangun di Saengga (90an rumah) serta di Onar Lama dan Onar Baru (sekitar 60an rumah).

tanah merah baru

Pembangunan rumah di Saengga dan Onar atas permintaan rakyat sendiri yang lebih suka bermukim di tanah ulayat marga mereka. Tak heran bila warga Kampung TMB merasa sebagai komunitas terbuang. Mereka tak punya tanah ulayat untuk berladang, sedangkan mama-mama yang biasa menjaring udang di pantai tak bisa melakukan itu, karena dilarang oleh sekuriti proyek.

Para nelayan dan petani dalam kondisi seperti itu ibarat mati mata pencaharian. Apalagi fasilitas umum seperti air bersih yang dulu melimpah kini sering tak mengalir. Listrik juga begitu, hanya untuk malam hari. Pusat Kesehatan Masyarakat Terpadu (Pustu), lebih banyak tutup ketimbang buka, karena dokter dan paramedis lebih sering berada di Bintuni. Program Sosial Terpadu seperti yang dijanjikan BP Tangguh belum terwujud sebagaimana yang direncanakan. Yang paling mengesalkan rakyat, kesempatan kerja bagi rakyat Papua sangat terbatas.

Kebanyakan pemuda Papua hanya menjadi sekuriti. Seorang pemuda Papua yang pernah bekerja di proyek namun kini telah di-PHK berkisah, sistem perekrutan tenaga kerja sangat tidak adil. Bila orang dari suku tertentu di luar Papua menempati suatu jabatan maka ia akan mengajak komunitasnya untuk bekerja. Alasan orang Papua tak punya skill pun dibantah pemuda ini. Orang Papua juga mampu. ”Masa orang cungkel tanah saja mesti bawa dari Jawa,” katanya kesal.

masy-TMB

Ibu Eva yang hadir dalam diskusi bersama PMK-HKBP di TMB, 19 Maret 2009, menyatakan, kendati TMB termasuk kawasan yang ditimpa dampak langsung LNG Tangguh (DAV), namun masyarakatnya tidak mendapatkan kesempatan bekerja di proyek itu. Apalagi kaum perempuan. ”Kami cari pekerjaan setengah mati tapi kalau speed masuk, itu pasti membawa rombongan dari luar, masuk kerja,” tutur ibu Eva, gusar.

Ada masalah lain menurut cerita seorang pemuda. BP tak boleh mendirikan rumah ibadah di dalam kompleks proyek. Karena itu rumah ibadah yang bagus: mesjid, gereja katolik dan gereja protestan dibangun di TMB. Diharapkan karyawan beribadah di TMB agar terjadi interaksi dengan masyarakat. Ternyata BP menyelenggarakan persekutuan Oikoumene di LNG Tangguh. Sudah begitu, kisah sang pemuda, tak jelas ke mana kolekte (uang yang dikumpulkan saat ibadah) disetor.

Persekutuan ini juga lebih suka mengundang pendeta dari luar Papua untuk berkhotbah di LNG Tangguh, konon dengan honorarium yang besar sampai jutaan rupiah sedangkan kalau pendeta setempat paling Rp 300 ribu. ” Entah kenapa, firman Tuhan dari Jawa dengan firman Tuhan dari Papua, beda harganya, ” tutur si pemuda.

Seorang ibu memrotes keberadaan koperasi kampung yang dikelola oleh staf BP. ”Ini koperasi masyarakat atau milik LNG. Kenapa orang BP yang mengelola koperasi itu,” protes sang ibu. Ibu Eva, sang guru, bernostalgia saat pertama jadi penghuni TMB, ”Pertama kali kami pindah dari kampung lama ke kampung baru sungguh senang. Makan dikasih, air mengalir siang dan malam. Lampu menyala dua puluh empat jam. Itu cuma berlangsung hampir dua tahun.”

”Jadi pertama kali kami manja, karena semua tersedia. Ada pelatihan untuk ekonomi, pertanian, perikanan. Tapi cuma sampai di situ, bentuk pelatihan saja, tak ada kelanjutannya,” kata Pak Gerardus Sabandafa, Guru Jemaat, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan anggota Komite Perjuangan Rakyat untuk Hak Rakyat. Pendeknya, rakyat sekarang mulai sadar, apa yang disediakan oleh BP dulu itu, hanyalah upaya untuk menunjukkan mereka telah melaksanakan program sosial sesuai kepentingan perusahaan.

Masalahnya apakah rakyat di TMB mau menerima nasib keterpurukan mereka sebagai takdir? Atau ingin melakukan upaya-upaya untuk perubahan. Para sobat yang berkumpul dalam diskusi di rumah Ibu Eva jelas inginkan ada perubahan. Bagi Pdt. F Kawab, dari GKI-TP jemaat TMB, rakyat perlu duduk bersama, memahami situasi yang tengah mereka hadapi, selanjutnya membangun kesadaran bersama untuk bertindak.

Ada banyak masalah yang dihadapi: kesiapan warga masuk dalam situasi yang berbeda sama sekali antara suasana kehidupan lama dan baru, yang tak pelak mengundang berbagai kejutan. Lantas keadaan dari mayoritas warga yang dulu petani dan nelayan yang kehilangan mata pencaharian, ketertinggalan warga setempat bersaing dengan pendatang yang lebih trampil dalam mengembangkan usaha-usaha dagang, tak adanya lahan untuk berladang, sampai kepada gejala konsumerisme yang melanda.

Untuk itu, Pak Kawab senantiasa mengingatkan warga melalui pertemuan-pertemuan ibadah agar persoalan bersama dibicarakan beradasarkan kearifan lokal: musyawarah tiga tungku. Itulah dialog antara pemuka adat, agama dan pemerintah. Dimulai dari komunitas kampung, sampai ke tingkat atas. Musyawarah harus dimulai dari rakyat. Kesadaran untuk berubah harus menjadi gerak dari rakyat sendiri, bukan datang dari kepentingan pihak luar, misalnya para aktivis LSM.

Banyak aktivis LSM yang datang ke TMB, menurutnya, ujung-ujungnya menjadi mitra LNG Tangguh. Karena itu Pdt. Kawab mendukung upaya bagi penguatan masyarakat adat, agar mereka mampu mengurus dirinya sendiri. Petrus Simuna, warga Saengga sepakat dengan upaya penguatan rakyat. Ia kagum atas perjuangan rakyat Sebyar dan berharap akan menular kepada suku-suku yang lain. Ia merindukan adanya gerakan bersama di Teluk Bintuni untuk menanggapi masuknya berbagai investor ke kawasan yang kaya SDA itu.

Adapun Pdt. Buce Corlinus dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), mendukung kegiatan penguatan masyarakat adat, agar mampu berperan memperjuangkan hak-haknya. Ia prihatin mengamati nasib buruh di perusahaan-perusahaan di kawasan T.Bintuni yang di PHK secara sepihak. Sudah begitu upah mereka rendah, jaminan sosial nihil.

Ia juga gusar oleh ulah BP Tangguh yang membuat pagar memisahkan area perusahaan dengan Kampung TMB. Padahal, menurut Corlinus, kalau pagar dibuka, akan terjadi pergaulan dan hubungan yang saling menguntungkan antara karyawan dengan masyarakat. “Kalau karyawan berbelanja di pasar kampung, ekonomi rakyat akan berkembang,” katanya yakin.

Mengamati ulah BP Tangguh yang nampaknya kurang memperdulikan rakyat TMB, Pak Sabandafa, Pak Kawab serta warga setempat, mulai memperbincangkan pilihan terobosan : transmigrasi lokal ke kampung yang berupa tanah ulayat di dekat Tofoi (Kelapa Dua). Menurut Ketua Jemaat GKI-TP Tanah Merah Baru itu, masyarakat menyediakan tanah ulayat menjadi kampung, sedangkan Pemda memfasilitasi pembangunan rumah. Rumah-rumah di TMB bisa saja dikontrakkan.

Di tanah yang baru itu, lahan untuk berladang terhampar luas dan laut tak dibatasi jembatan BP Tangguh. Jadi, para mama yang trampil menjaring udang dan kepiting di bibir pantai, bisa menunjukkan kebolehannya lagi. Jadi, belajar dari catatan ini, terasa lebih yakin untuk menyatakan, Tanah Papua sebagai Zona Darurat. Wah !!

Arthur J. Horoni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: