Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu

4

Senin, 9 November 2009 oleh Arthur John Horoni


Tuan Presiden,

Saya cuma seorang rakyat jelata, usia 62 tahun, tak punya perusahaan (asli wong deso), tak dapat pensiun (bukan pns, non-serdadu dan non-polisi), cuma punya rumah di Perumnas Depok. Pernah jadi penyiar radio swasta tahun 70-80-an (jadul), pernah menjadi seolah-olah wartawan karena tak dapat Kartu PWI, dan sekarang belajar di tengah rakyat di desa dan kota, bagaimana caranya agar rakyat mampu mengurus dirinya sendiri.

Tuan Presiden yang menawan (senyumnya …)

Anda sungguh beruntung di awal masa pemerintahan kedua ini. Partai Anda memenangkan pemilu dan Anda sendiri (dan wakil Anda juga tentunya) memenangkan pilpres dengan lebih dari 60% suara, artinya lebih dari 60 juta pemilih mencontreng gambar Anda dan wakil. Anda punya barisan koalisi partai pendukung lebih dari 70% di DPR-RI. Sejatinya Anda tinggal melenggang dengan citra penyelamat negeri berpenduduk 200 juta lebih kawula ini. Tapi ternyata (mengutip sastrawan besar Rusia, Boris Pasternak dalam Dr. Zivago): “Hidup tak segampang menyeberangi air kali”.

Entah kenapa, masih pada hari-hari awal “bulan madu” kekuasaan paruh II, mulai terjadi gonjang-ganjing atawa ontran-ontran. Hanya karena seorang petinggi polisi menggunakan ungkapan provokatif  “cicak melawan buaya”, tiba-tiba peta sosial negeri ini jungkir balik. Orang-orang yang tidak berdaya, mendadak saja mengidentifikasikan dirinya sama dengan KPK; menjadi kelas cicak. Yang tidak termasuk kelas cicak langsung saja dianggap front kelas buaya.

Tuan Presiden yang anteng,

Tampaknya Anda perlu siaga. Soalnya “buaya” dalam berbagai pemahaman cerita rakyat Indonesia adalah binatang buas yang keahliannya bengis, menaklukan dan memusnahkan. Tak ada cerita baik untuk hewan pemangsa ini. Gelar yang agak romantis berhubungan dengan buaya adalah “buaya darat” yang menunjukkan seorang lelaki hidung belang. Kalau ada seorang koruptor  menangis berurai airmata maka dibilang, “airmata buaya”. Saya percaya 1000% Anda pastilah tak mau menyandang salah satu dari gelar itu bukan ?

Sungguh, Tuan Presiden,

Dengan was-was saya berharap Anda mulai memasang jurus. Kenapa? Sang cicak sekarang telah menunjukkan kebolehannya dalam berjaringan.

Oleh kesamaan nasib sebagai masyarakat yang sering “dianiaya” para buaya, sang cicak mengorganisir diri dan menjelma menjadi barisan orang-orang yang tersadarkan: bahwa kecurangan, kebohongan, pencurian harta negara, penganiayaan terhadap rakyat (yang sering diatasnamakan) tak boleh dilanjutkan lagi.

Sang cicak, dari oknum yang tampaknya bloon, tak berdaya, tertindas, telah bermetamorfosis menjadi mahluk yang tercerahkan, sadar akan kekuatannya dan menginginkan perubahan menyeluruh agar hidup rakyat menjadi lebih baik.

Akan halnya kelas buaya, tidak bakal mengalah begitu saja. Kendati telah dipermalukan saban hari, kelas penindas ini tebal muka, setebal kulit buaya. Inilah jenis mahluk yang tak pernah memiliki rasa bersalah. Kesalahan selalu berada pada pihak lain. Mereka akan ngotot pada soal-soal tata cara normatif dan bukan kepada rasa keadilan. Mereka menomorsatukan akal-akalan dan menafikan hati nurani.

Kelas buaya adalah persekongkolan para bajingan yang mengambil untung dari kesengsaraan rakyat. Apa boleh buat, melalui jaringan media hari-hari ini, para buaya banyak terdapat di institusi-institusi yang seharusnya membela nasib para cicak.

Tuan Presiden yang semoga bijak,

Saya sungguh-sungguh was-was, bila Anda bungkam dan tak segera bertindak. Anda jangan menganggap sepele 1 juta facebookers dibanding lebih dari 60 juta pemilih Anda. Satu juta itu puncak sebuah gunung es, maka jumlah rakyat yang menyanggah puncak itu bisa saya 1 juta x 100 orang = 100 juta orang. Dan itu suara orang-orang yang terluka, yang selama ini dilecehkan oleh para buaya.

Jadi, Tuan Presiden,

Silakan pasang jurus yang tepat.

Karena itu dengarkanlah suara hatimu

Salam,

Arthur J. Horoni

4 thoughts on “Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu

  1. pargodungan™ mengatakan:

    salam…
    mudah-mudahan pak presiden sby mendengar keluhan ini..

  2. Pambudi Nugroho mengatakan:

    Sependapat bung…
    Bagi saya masalah ini bukanlah masalah bencana nasional atau masalah institusi seperti yang ada berita. Cicak & buaya ini adalah masalah individu, yang memang publik kita, sudah terlanjur ” menggenerasikan” persoalan ini ke lembaga, padahal ini hanya ulah seekor Tikus yg sudah lama piawai dalam lakon menjadi ” pawang Buaya” untuk menjinakkan buaya dan sekarang tertawa sambil tetap melirik ke arah lumbung padi milik Rakyat.

    Jadi Presiden harus keluar jurus seperti cerita sebastian tito wiro sableng, Sakti namun tetap Jujur,lugu dan bijaksana.

    Terima kasih bung Billy, salam sejahtera

  3. handaru mengatakan:

    Halo Pak Bill, Wah lam juga saya tidak berselancar di blognya pak BIll yang penuh pencerahan ini. SEhat sehat saja kan Pak ? mencermati Presiden kita ini hati serasa gregetan…banyak informasi bertebaran bahwa presiden kita ini sangat strategis dan licik, namun jika kita melihat pola pikir yang tersirat dalam pidatonya kok serasa beliau ini seperti dewa saja ya bijak dan tenang…
    Facebook : handaru suryo putro

  4. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Salam jumpa kembali, Mas Handaru. Terima kasih atas komentar Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: