Perkenankan Aku Menghasut

3

Kamis, 18 Februari 2010 oleh Arthur John Horoni


Tahun silam di Manokwari, Papua Barat, seorang ibu PNS (Pegawai Negeri Sipil) mengomel ikhwal diskriminasi terhadap suku Papua di kantor-kantor pemerintah. Orang pendatang menguasai posisi penting, bangsa Papua cuma embel-embel. Dalam seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) orang Papua tersìsih. Maka aku hasut ibu itu, kalau mau jadi kehebohan, ibu organisir seluruh orang Papua yang PNS, mundur dari pegawai negeri. Pasti gaduh. Sayang ibu itu tak berani.

Tes untuk CPNS

Tatkala aliran listrik di Medan dan sekitarnya mati-hidup tak beraturan, orang berang. Mereka menghujat PLN (Perusahaan Listrik Negara). Aku pun menghasut, “Jangan bicara melulu, para pejabat itu sudah tuli. Kalau berani, ayo satu kelurahan kita stop bayar listrik. Pasti ribut.”

Tapi rakyat belum berani membangkang. Cuma demo atau melempari kantor dengan benda-benda keras. Itu tak ada gunanya bagi birokrat yang tak punya hati. Mereka tak paham soal pelayanan publik. Mereka canggih menipu dan memecah belah. Mereka tak pernah merasa salah.

Jadi mereka harus dilawan. Perkenankan aku menghasut: Andaikan ada satu persen saja dari 230 juta rakyat tolak bayar pajak kecuali bila para koruptor dilibas habis, bagaimana? Hanya bila rakyat yang penuh derita ini membangkang secara serempak, mungkin ada harapan. Berani?

Arthur John Horoni

[Foto: prasetya.brawijaya.ac.id]

3 thoughts on “Perkenankan Aku Menghasut

  1. Leonardus S Neno mengatakan:

    Menghasut tindakan melawan nurani dasar karena akan tercipta permusuhan diantara kita sesama. Hendaknya kita menghindari hasut mengasut, namun membangun budaya yang beretika saling menghargai. Mengapa yang lolos saringan pengngkatan pegawai negeri lebih banyak warga dari luar Papua? Ini harus menjadi refleksi kita bersama. Mungkin SDM kita masih belum mencapai standar untuk dapat berkompetisi ditingkat nasional.Kita perlu merubah pola pikir bahwa kita tidak dilahirkan harus menjadi PNS. Dan PNS bukanlah segala-galanya, dan bukan puncak dari kesuksesan hidup. Kita bisa membangun masa depan pertama-tama : belajar baik formal, informal, mengikuti pelatihan ketrampilan di bidang apa saja seperti pertanian, perkebunan, pertukungan, peternakan, perikanan, perdagangan, dll yang dapat memberikan penghasilan untuk kesejahteraan. Bila sejahtera tidak peluang untuk hasut-menghasut, dan damailah hidup kebesamaan kita sebagai warga bangsa yang Bhineka Tunggal Ika.

  2. Arthur John Horoni mengatakan:

    Baik sekali antitesis semacam ìni. Ada dialog yang terbangun. Di negeri ini terlalu banyak kata yang ditakuti, sehingga berkonotasi negatif. Mungkin kita terjebak pada formalìsme. Menghasut, suversif, revolusì, sayap kiri, untuk menyebut beberapa contoh, sering dimaknai miring. Padahal pelopor perubahan, bahkan para nabi, suka juga menghasut tatkaka keadilan diputarbalikkan. Pesan mereka subversif bermakna perlawanan. Masalah republik yang cedera ini, hari ìni, bukan soal SDM. Tapi ketidakadikan. Begitu.

  3. Pambudi Nugroho mengatakan:

    Saya sepakat catatannya bung Arthur. SDM yg bung Leonardus katakan masih belum mencapai standar untuk dapat berkompetisi itu akibat dari ketidakbecusan pemerintah. Bahkan alam kekayaan papua yg kaya itu pun disikat habis, bagaimana mungkin untuk memberikan pendidikan,pelatihan, dll. Jika bangunan sekolah saja banyak yg tdk layak. Berarti, kita bicara ketidakadilan disitu.

    Persoalannya menjadi dasar, mampukah kita peka melihat penindasan yg ada disekitar kita. 32 tahun, rezim soeharto memang membungkam mulut rakyat,sehingga kata Menghasut, suversif, revolusì, sayap kiri, amat menakutkan, seolah bernada pengkhianatan thd negara. Padahal pengkhianat sebenarnya adalah para penguasa yg Korup, yg memakan uang pajak rakyatnya. Dan penguasa kita hanya mengurusi soal bank Century karna ada kepentingan, ketimbang daerah2 kita yg miskin.

    Bagi saya menghasut, sayap kiri itu adalah media proses penyadaran kritis sbg praksis pembebasan dari sebuah penindasan, sama seperti jejak para nabi.

    Salam sejahtera,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: