Hai Rakyat, Gunakan Hak Revolusionermu


“Negeri ini dan segala institusinya adalah milik rakyat yang menghuninya. Manakala jenuh dan muak terhadap pemerintah, mereka dapat menggunakan hak konstitusionalnya untuk mengubah atau hak revolusionernya untuk meruntuhkannya.” Ungkapan paten dari Abraham Lincoln 150 tahun silam dalam pidato pertamanya sebagai Presiden Amerika Serikat itu, dikutip Indera Nababan sebagai contoh bagaimana hubungan rakyat dengan pemerintah. Karena hampir seluruh aspek kehidupan rakyat di negeri ini carut-marut akibat … Lanjutkan membaca Hai Rakyat, Gunakan Hak Revolusionermu

Paskah dan SMS Sejuta Umat


Dan, teknologi komunikasi mutakhir menunjukkan kedigjayaannya: produksi pesan pendek melalui sms maupun facebook di sekitar perayaan umat Kristiani dari Jumat Agung hingga Paskah 2010. Jumat Agung adalah perayaan wafatnya Jesus Kristus sedangkan Paskah menandai KebangkitanNya. Melalui teknologi komunikasi mutakhir dengan PC, laptop ataupun ponsel, segala kegaduhan penyampaian ucapan menjadi serba cepat dan tak repot. Dulu orang mesti memilah-milah kartu ucapan  yang cocok, mengirim jauh hari … Lanjutkan membaca Paskah dan SMS Sejuta Umat

Perkenankan Aku Menghasut


Tahun silam di Manokwari, Papua Barat, seorang ibu PNS (Pegawai Negeri Sipil) mengomel ikhwal diskriminasi terhadap suku Papua di kantor-kantor pemerintah. Orang pendatang menguasai posisi penting, bangsa Papua cuma embel-embel. Dalam seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) orang Papua tersìsih. Maka aku hasut ibu itu, kalau mau jadi kehebohan, ibu organisir seluruh orang Papua yang PNS, mundur dari pegawai negeri. Pasti gaduh. Sayang ibu itu … Lanjutkan membaca Perkenankan Aku Menghasut

Amir Sjarifoeddin, Penghianat atau Pejuang?


Amir Sjarifoeddin, Perdana Menteri RI 1947–1948, yang pada 19 Desember 1948 ditembak mati oleh tentara karena terlibat Peristiwa Madiun, apakah seorang penghianat atau pejuang? Itulah pertanyaan yang berkembang dalam kegiatan Bedah Buku: Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Bedah buku itu berlangsung di Medan, 19 Desember 2009, dihadiri lebih 100 orang partisipan. Buku yang diperbincangkan adalah karya Pendeta Frederik Djara  … Lanjutkan membaca Amir Sjarifoeddin, Penghianat atau Pejuang?

Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu


Tuan Presiden, Saya cuma seorang rakyat jelata, usia 62 tahun, tak punya perusahaan (asli wong deso), tak dapat pensiun (bukan pns, non-serdadu dan non-polisi), cuma punya rumah di Perumnas Depok. Pernah jadi penyiar radio swasta tahun 70-80-an (jadul), pernah menjadi seolah-olah wartawan karena tak dapat Kartu PWI, dan sekarang belajar di tengah rakyat di desa dan kota, bagaimana caranya agar rakyat mampu mengurus dirinya sendiri. … Lanjutkan membaca Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu