Menonton Tari Kecak Bersama Althea Ishvari Anjali


Tadinya saya berharap akan menyaksikan suatu sendratari kolosal yang agung dan sakral. Namun kenyataannya, yang muncul di hadapan saya dan ribuan penonton lainnya hanyalah tari kecak yang dipaksakan untuk tontonan wisata. Jumlah penarinya diperkirakan tidak sampai 50 orang, mungkin karena arena yang tersedia sangat sempit. Keagungan epos ramayana sama sekali tidak terasa, bahkan para penarinya pun terkesan amatiran. Yang menghibur penonton hanyalah canda-canda jenaka dari pemeran Hanoman. Lanjutkan membaca Menonton Tari Kecak Bersama Althea Ishvari Anjali

Iklan

Beringharjo dan Mega-Mega


Setiap kali saya melintas di depan Pasar Beringharjo Jogjakarta, saya selalu teringat pada naskah drama “Mega-Mega” karya almarhum Arifin C. Noer, yang ia tulis antara tahun 1964-1966. Naskah drama – yang mendapat penghargaan sebagai Lakon Sandiwara Terbaik dari Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) 1967 – itu menceritakan kehidupan para gelandangan dan preman di pinggiran Pasar Beringharjo. Tampak depan Pasar Beringharjo. Mega-Mega, seperti umumnya naskah-naskah drama … Lanjutkan membaca Beringharjo dan Mega-Mega

Bakmi Kadin dan Musik Kroncong


Jika Anda termasuk manusia “jadul” berusia minimal 40-an tahun, Anda pasti mengenal atau paling tidak pernah mendengar lagu The Autumn Leaves, yang pertama kali dilantunkan oleh Nat King Cole pada tahun 50-an. Dekade berikutnya lagu ini dikumandangkan oleh Frank Sinatra, dan dasawarsa berikutnya lagi Andy Williams tak mau ketinggalan mendendangkan lagu ini. Singkat kata, lagu ini pernah sangat terkenal hingga sekitar tahun 80-an, karena berganti-ganti … Lanjutkan membaca Bakmi Kadin dan Musik Kroncong

Justeru Dalam Hujan, Panasnya Kian Menyengat


Ciater selalu membuat saya dan Indri (isteri saya) rindu. Jika dalam tiga bulan saja kami tidak berkunjung ke Ciater, sudah bisa dipastikan Indri akan merengek-rengek minta diajak ke sana, barang satu hingga dua hari. Ciater memang ngangenin. Setidaknya ada tiga hal yang membuat kami selalu kangen Ciater. Pertama, udaranya yang sejuk dan masih bersih alias bebas polusi karena berada di lereng pegunungan. Kedua, di tempat … Lanjutkan membaca Justeru Dalam Hujan, Panasnya Kian Menyengat

Papan Penunjuk Jalan atau Reklame?


Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Bandung dikenal sebagai kota yang semrawut. Jalan-jalan kota yang hancur, banyak berlubang. Sampah bertebaran di berbagai tempat. Dan, di kota yang pernah dikenal sebagai Parijs van Java itu, sangat jarang ditemukan papan penunjuk jalan. Sehingga, orang-orang yang tidak begitu akrab dengan “kota kembang” — yang sering pula dipelesetkan sebagai “kota kambing” — mengalami kesulitan untuk bepergian dari satu tempat … Lanjutkan membaca Papan Penunjuk Jalan atau Reklame?