Hollywood Hengkang, Bioskop Digerayangi Setan dan Perempuan Setengah Telanjang?


Sekitar satu minggu lalu (18/02/2011), sebuah kabar menyentak para pecinta film. Sumbernya, sangat bisa diandalkan, Noorca M. Massardi yang saat ini menjabat sebagai juru bicara 21 Cineplex, perusahaan penguasa perbioskopan di tanah air. Isi beritanya tidak tanggung-tanggung mengagetkan: film Hollywood terancam tidak lagi ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air setelah Motion Picture Association menyetop distribusi film mereka ke Indonesia. Dikabarkan, masalah bermula dari adanya pajak (baru) … Lanjutkan membaca Hollywood Hengkang, Bioskop Digerayangi Setan dan Perempuan Setengah Telanjang?

Adegan Seks Berbalut Film Horor


Betulkah film Indonesia bangkit kembali? Jika menilik jumlah film Indonesia yang dibuat setiap tahun, angka-angkanya memang terlihat meningkat dengan cukup meyakinkan. Jika di tahun 2007 sekitar 53 film Indonesia diproduksi, di tahun 2008 angkanya sudah menjadi 87 film. Jumlah 100 film yang  diproduksi dalam waktu 1 tahun, bahkan sudah terlampaui di tahun 2009 lalu. Secara kasat mata, coba saja lihat gedung-gedung bioskop di sekitar Anda. … Lanjutkan membaca Adegan Seks Berbalut Film Horor

Kearifan Lokal dalam Pesan Sebuah Film


Keberhasilan film Australia dalam memperlihatkan kekuatan local wisdom atau kearifan lokal, membuat saya teringat pada beberapa film lain dengan konteks yang sama. Konteks budaya lokal saat harus berhadapan dengan budaya modern (budaya Barat/western). Salah satunya, yang paling fenomenal, adalah film  The Gods Must Be Crazy. Jika film Australia (meskipun sedikit) mengangkat budaya masyarakat Aborigin, atau masyarakat asli benua Kangguru, maka The Gods Must Be Crazy … Lanjutkan membaca Kearifan Lokal dalam Pesan Sebuah Film

Australia dan Tembang Mantrawi Kaum Pribumi


Di penghujung tahun 2008 ini, para penggemar sinema di seluruh dunia disuguhi film berjudul: Australia. Sebuah karya besar sutradara Baz Luhrmann, yang pernah sukses dengan film Moulin Rouge (2001) dan William Shakespeare’s Romeo & Juliet (1996). Film termahal berbiaya 150 juta dollar Australia, atau sekitar 1,1 trilyun rupiah itu, merupakan film yang sudah lama diimpi-impikan Baz Luhrmann. Maklum, Baz adalah sutradara kelahiran Australia. Impiannya bukan … Lanjutkan membaca Australia dan Tembang Mantrawi Kaum Pribumi

Adegan Berulang di Film Indonesia


Hampir sejak awal sejarahnya, film di Indonesia sudah menjadi bagian dari industri budaya, baik di Indonesia maupun dunia. Sebagai bagian dari sebuah industri, film Indonesia tunduk pada mekanisme kerja dalam sebuah industri. Meminjam pandangan Theodore Adorno dan Max Horkheimer, dua empu dalam bidang industri budaya, film merupakan contoh nyata sebuah usaha komersial yang menggunakan mekanisme ban berjalan. Adorno dan Horkheimer Lihat saja proses produksi sebuah … Lanjutkan membaca Adegan Berulang di Film Indonesia